Menu ✖

Mode Gelap
KONI Sula Gelar Jalan Sehat dan Cek Kesehatan Gratis di Falabisahaya Disnakertrans Pulau Taliabu Genjot Manfaat BPJS Jamsostek untuk Pekerja Rentan Tim Paduan Suara Mars PKK Taliabu Tampil Maksimal di HKG ke-54 Malut Bantuan Logistik Karhutla dan Personel Tambahan Dikerahkan di Desa Salati, Nggele dan Lede Bantuan Logistik Karhutla dan Personel Tambahan Dikerahkan di Desa Salati, Nggele dan Lede

Kesehatan

Pelayanan RSUD Sanana Dikeluhkan, Dokter Ika: Hanya Miskomunikasi

badge-check


					Foto : Rumah Sakit Umum Daerah Sanana (doc.istimewa) Perbesar

Foto : Rumah Sakit Umum Daerah Sanana (doc.istimewa)

Madingkota.com – Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana, Kepulauan Sula, Maluku Utara, kembali dikeluhkan keluarga pasien, Selasa 15/9/2026 kemarin.

Keluhan tersebut disampaikan keluarga pasien lanjut usia dengan tekanan darah mencapai 180 yang menunggu kurang lebih dua jam tanpa kejelasan tindakan lanjutan setelah menjalani pemeriksaan awal di Unit Gawat Darurat (UGD).

Kepada wartawan, keluarga pasien mengaku membawa orang tuanya ke UGD sekitar pukul 08.00 WIT karena mengalami tekanan darah tinggi. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, tekanan darah pasien tercatat mencapai 180.

“Bapak saya darah tinggi, saya antarlah ke UGD. Tindakan awal itu petugas melakukan tensi, tekanan darah itu 180, kemudian mereka suruh kita daftarkan melalui BPJS,” ujar keluarga pasien.

Menurutnya, setelah proses awal tersebut, mereka menunggu tindakan selanjutnya. Namun hingga kurang lebih dua jam, tidak ada pelayanan lanjutan yang diterima pasien.

“Kami menunggu kira-kira tindakan selanjutnya apa, namun mereka tidak ada tindakan selanjutnya hingga dua jam lebih. Kami datang tadi sekitar jam 8 pagi,” ungkapnya.

Merasa khawatir lantaran kondisi orang tuanya membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, keluarga kemudian menanyakan langsung kepada petugas. Saat itulah mereka mendapat penjelasan bahwa pasien diarahkan untuk mendapatkan pelayanan di poliklinik karena dinilai bukan dalam kondisi gawat darurat.

“Setelah saya tanyakan itu, barulah mereka sampaikan kepada kami bahwa tadi sudah dikasih tahu ke Dokter Ivan dan dia menyampaikan bahwa itu bukan pasien darurat. Jadi diarahkan ke ruang poliklinik kemudian didaftarkan,” katanya.

Lebih lanjut, keluarga pasien bilang, saat tiba di ruang poliklinik, pelayanan tersebut telah ditutup sehingga mereka harus mengambil nomor antrean terakhir.

“Hanya saja mereka (petugas) di UGD ini tidak arahkan kami ke ruang poliklinik, padahal dokter sudah kasih tahu ke mereka sebelumnya. Karena itu kami sendiri tidak tahu, setelah kami ke Poliklinik, ternyata pelayanan di Poliklinik sudah tutup”, keluhnya.

“Jadi kami sampaikan ke petugas bahwa kami sudah datang dari pagi. Meskipun sudah tutup, kasih saja kami nomor antrean. Makanya saat ini kami dapat nomor antrean terakhir” sambungnya.

Kondisi pasien yang tidak mampu berdiri membuat persoalan antrean semakin berat. Pasien tetap menunggu di UGD, sementara anggota keluarganya harus mengantre sendiri di poliklinik.

“Bapak saya tidak bisa berdiri, makanya bapak tunggu di UGD dan saya antri di ruang Poliklinik,” katanya.

Ia menilai persoalan tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila petugas memberikan informasi mengenai alur pelayanan sejak awal.

“Kalau petugas kasih tahu dari awal, setelah tensi datang tadi berarti tentu kami akan mengambil nomor antrean. Tapi inikan tidak,” tegasnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Plt Kepala Seksi Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Sanana, dr. Ika, menyebut persoalan tersebut terjadi akibat miskomunikasi antara petugas dan keluarga pasien.

Ia menjelaskan, RSUD Sanana memiliki mekanisme pelayanan yang membedakan pasien gawat darurat dan non-gawat darurat.

“Jadi kita di UGD ini ada dua pelayanan, yakni yang pertama adalah pelayanan gawat darurat dan non-gawat darurat. Kalau pelayanan gawat darurat ini langsung di UGD, sementara non-gawat darurat ini di poliklinik,” jelas dr. Ika.

Menurutnya, masyarakat terkadang memilih datang ke UGD karena menginginkan pelayanan lebih cepat, meskipun kondisi pasien seharusnya ditangani melalui poliklinik.

“Terkadang masyarakat mau pelayanan lebih cepat, mereka langsung ke UGD. Karena kalau di poliklinik berarti harus didaftarkan dulu, kemudian antre menunggu dokter dari ruangan,” katanya.

Setelah melakukan konfirmasi kepada petugas UGD, dr. Ika menyatakan tidak adanya pelayanan lanjutan selama menunggu lebih dari dua jam terjadi karena informasi yang disebut tidak tersampaikan antaranggota keluarga.

“Jadi setelah saya konfirmasi ke petugas di bagian UGD terkait permasalahan tadi, ini hanya soal miskomunikasi saja,” ujarnya.

Lebih jauh, Dr. Ika bilang, petugas sebelumnya telah menyampaikan informasi kepada anggota keluarga perempuan pasien. Namun informasi tersebut disebut tidak diteruskan kepada anak laki-laki pasien yang kemudian kembali menanyakan kondisi orang tuanya kepada petugas.

“Petugas sudah sampaikan ke anak perempuan pasien, tapi keluarga perempuan itu tidak menyampaikan ke kakak laki-lakinya, makanya kakaknya tidak tahu,” jelasnya.

Dr. Ika memastikan pasien telah didaftarkan di poliklinik dan sementara masih menunggu di UGD hingga mendapat giliran pemeriksaan oleh Dr. Ivan.

Pihaknya juga meminta masyarakat menyampaikan keluhan melalui kanal pengaduan SILARAS yang tersedia di sudut-sudut RSUD Sanana agar setiap persoalan pelayanan dapat segera diklarifikasi.

“Jadi saya minta terkait dengan komplain terkait layanan itu silakan saja langsung ke SILARAS, karena kami mempunyai media aduan biar kami bisa langsung klarifikasi,” tandasnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KONI Sula Gelar Jalan Sehat dan Cek Kesehatan Gratis di Falabisahaya

25 Oktober 2026 - 04:19 WIT

Disnakertrans Pulau Taliabu Genjot Manfaat BPJS Jamsostek untuk Pekerja Rentan

23 Oktober 2026 - 17:52 WIT

Tim Paduan Suara Mars PKK Taliabu Tampil Maksimal di HKG ke-54 Malut

23 Oktober 2026 - 07:35 WIT

Belum Serahkan Bantuan Alat Tangkap Nelayan, Warga Pancoran Meradang

21 Oktober 2026 - 19:57 WIT

Kepsek Bungkam, Proyek Rehabilitasi SMK Negeri 1 Kepulauan Sula Disorot!

21 Oktober 2026 - 13:41 WIT

Trending di Daerah