Menu ✖

Mode Gelap
KONI Sula Gelar Jalan Sehat dan Cek Kesehatan Gratis di Falabisahaya Disnakertrans Pulau Taliabu Genjot Manfaat BPJS Jamsostek untuk Pekerja Rentan Tim Paduan Suara Mars PKK Taliabu Tampil Maksimal di HKG ke-54 Malut Bantuan Logistik Karhutla dan Personel Tambahan Dikerahkan di Desa Salati, Nggele dan Lede Bantuan Logistik Karhutla dan Personel Tambahan Dikerahkan di Desa Salati, Nggele dan Lede

Ekonomi

Retribusi Pasar Jalan, Fasilitas Minim: Kinerja Diskoperindag Sula Disoal

badge-check


					Aktivitas pedagang di Pasar Bambu desa Mangon, Sula. Foto/madingkota.com Perbesar

Aktivitas pedagang di Pasar Bambu desa Mangon, Sula. Foto/madingkota.com

Madingkota.com – Potret memprihatinkan terlihat di Pasar Bambu, Desa Mangon, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula. Di balik kewajiban membayar retribusi harian, para pedagang justru harus bertahan tanpa fasilitas yang memadai.

Hasil pantauan madingkota.com, Senin (4/5/2026), bangunan pasar yang diresmikan pada 2021 itu tampak minim sarana penunjang. Sejumlah pedagang terpaksa berjualan di emperan dengan meja dan tenda seadanya, bahkan sebagian harus membuat lapak sendiri demi tetap bertahan.

Salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Ia menilai, kewajiban membayar retribusi sebesar Rp2.000 per hari tidak sebanding dengan fasilitas yang diberikan.

“Kami sangat kecewa. Kami diwajibkan bayar retribusi, sementara tempat jualan dan fasilitas penunjang tidak ada,” ujarnya.

Kekecewaan itu semakin memuncak setelah para pedagang mempertanyakan penggunaan retribusi. Namun, menurut pengakuan mereka, respons yang diterima justru kurang bersahabat.

“Kami pernah tanya kenapa tetap ditagih saat hari libur. Jawabannya untuk kas kantor, bahkan kami dibilang kalau tidak mau bayar, jangan berjualan di sini,” katanya.

Para pedagang mengaku selama ini tetap memenuhi kewajiban, meski harus merogoh kocek pribadi untuk kebutuhan dasar seperti meja jualan.

“Kami selalu bayar retribusi, tapi meja kami buat sendiri. Kalau rusak, kami beli papan lagi pakai uang pribadi,” tambahnya.

Di tengah keterbatasan itu, para pedagang tetap bertahan demi menyambung hidup. Kondisi pasar yang becek saat hujan dan panas terik saat siang hari menjadi tantangan sehari-hari yang harus mereka hadapi.

“Kalau hujan becek, kalau panas kami kepanasan. Tapi kami tetap bertahan untuk cari rezeki,” ungkapnya.

Para pedagang berharap Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kepulauan Sula, segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki fasilitas pasar.

“Kami tetap bayar retribusi, tapi kami minta fasilitas yang layak. Jangan hanya janji,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disperindagkop Kepulauan Sula, Jena Tidore, saat dikonfirmasi membenarkan adanya penarikan retribusi sebesar Rp2.000 per hari di Pasar Bambu.

“Iya, retribusi memang ditagih setiap hari,” singkatnya.

Terkait fasilitas penunjang, Jena menyebut pihaknya akan melakukan pendataan ulang jumlah pedagang sebagai langkah awal.

“Untuk bantuan meja dan tenda akan diupayakan. Kami akan data kembali pedagang, terutama pedagang ikan yang saat ini memilih berjualan di luar,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam rencana kerja tahun ini belum terdapat anggaran khusus untuk pengadaan fasilitas seperti meja dan tenda.

“Belum ada. Kami maksimalkan dulu penggunaan gedung. Jika daya tampung melebihi, baru disesuaikan dengan anggaran,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hadiri Rakor Percepatan Penyusunan RDTR, Potensi Daerah dan Investasi Jadi Target Pemda Sula

21 Oktober 2026 - 02:43 WIT

Tiga Dinas Terkait Bakal Tertibkan Pedagang di Depan Pasar Makdahi Sanana

20 Oktober 2026 - 14:05 WIT

Peringati Hari Jadi ke-75 Humas Polri, IPDA Jaya Afandi Pimpin Bakti Sosial Humas Polres Sula

19 Oktober 2026 - 07:23 WIT

Tudingan Dana Rp1,5 M Menyeret Nama Bupati FAM, Armin Soamole; Jangan Bangun Opini Sesat

18 Oktober 2026 - 12:44 WIT

Tarian Laka Baka Dipersembahkan Pada Festival Legu Tara No Ate

17 Oktober 2026 - 06:28 WIT

Trending di Daerah